Social Icons

Featured Posts

Jumat, 17 Januari 2014

E-Learning

TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Dosen :
Dr. Danang Tandyonomanu, M.Si











Disusun Oleh :
Susmudioko, ST
NIM : 137905038






PASCASARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2013


PENDAHULUAN
Ilmu dan teknologi terutama teknologi informasi berkembang sangat pesat yang berdampak pada pelbagai perubahan sosial budaya. Contohnya ecommerce merupakan salah satu perubahan radikal dalam aspek ekonomi masyarakat modern saat ini. Di sektor pemerintahan ada e-government dan di sektor pendidikan sudah berkembang apa yang disebut e-learning.
Di Indonesia pemanfaatan teknologi internet dimulai sekitar tahun 1995 ketika IndoInternet membuka jasa layanan internet dan tahun 1997-an mulai berkembang pesat. Namun kini pemanfaatan teknologi ini masih didominasi oleh lembaga seperti perbankan, perdagangan, media massa, atau kalangan industri. Bila dilihat potensinya, dalam waktu mendatang mungkin saja lembaga pendidikan akan  endominasinya. Pemanfatan teknologi internet untuk pendidikan di Indonesia secara resmi dimulai sejak dibentuknya telematika tahun 1996. (Anwas, Oos M. 2000)
Seiring perkembangan zaman, pemanfaatan internet untuk pendidikan di Indonesia khususnya di perguruan tinggi terus berkembang yang dipelopori oleh Institut Teknologi Bandung. Pemanfaatan internet untuk pendidikan ini tidak hanya untuk pendidikan jarak jauh, akan tetapi juga dikembangkan dalam sistem pendidikan konvensional. Kini sudah banyak lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi yang sudah mulai merintis dan mengembangkan model pembelajaran berbasis internet dalam  mendukung sistem pendidikan konvensional. Internet sebagai media baru belum memasyarakat. Demikian pula orang-orang yang terlibat dalam lembaga pendidikan belum terbiasa menggunakan internet.
Penyelenggaraan pendidikan nasional yang bersifat konvensional, mengalami banyak kendala ketika dituntut untuk memberikan pelayanannya bagi masyarakat luas yang tersebar di seluruh Nusantara. Kendala tersebut antara lain keterbatasan finansial, jauhnya lokasi, dan keterbatasan jumlah institusi. Saat ini telah berkembang teknologi informasi yang dapat dimanfaatan untuk mengatasi kendala tersebut. Sudah saatnya teknologi informasi dimanfaatkan secara optimal dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.
Terlebih di masa depan pendidikan akan mengahadapi persaingan global yang sangat ketat. Agar dapat memenangkan ataupun dapat ikut bermain dalam dinamika global membutuhkan prasyarat kekuatan kepercayaan diri dan kemandirian.

Pengertian
Electronic learning kini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda-beda dengan e-learning, namun pada prinsipnya e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat bantunya. E-learning memang merupakan suatu teknologi pembelajaran yang yang relatif baru di Indonesia.
Untuk menyederhanakan istilah, maka electronic learning disingkat menjadi e-learning. Kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronica’ dan ‘learning’ yang berarti  pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya. Dengan kata lain e-learning adalah pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, vidiotape, transmisi satelite atau komputer.


RUMUSAN MASALAH
  1. Penerapan E-Learning di Indonesia. Apa yang menjadi kendala dan kemungkinan yang muncul. Jelaskan kendala dan kemungkinan tersebut, dan bagaimana mengatasi dan mengoptimalkan pelaksanaan E-Learning jika diterapkan di Indonesia ?
  2. Interaksi merupakan bagian yang terpenting dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pemanfaatan E-Learning, interaksi yang muncul di antara peserta pembelajaran menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana mengoptimalkan aspek interaksi sehingga semua aspek interaktivitas pada pembelajaran tatap muka (face-to-face) dapat tercapai ?
  3. Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan E-Learning? Bagaimana dengan ilmuan teknologi menyikapi hal ini?
  4. Pemanfaatan E-Learning ditengarai akan menyebabkan perilaku menyendiri tidak mau bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya. Bagaimana upaya teknolog pembelajaran dalam mengatasi kemungkinan tersebut?




PEMBAHASAN
1.  Kendala dan kemungkinan yang muncul dalam penerapan e-learning di Indonesia.
Beberapa universitas di Indonesia memang sudah menerapkan E-Learning sebagai metode pengajaran utama terutama di universitas terbuka, karena E-learning memiliki banyak keuntungan. Tapi belum semua lembaga pendidikan bahkan sebagian besar lembaga pendidikan di Indonesai belum menerapkan E-Learning, hal ini disebabkan beberapa faktor kendala yang menghambat penerapan E-Learning Di Indonesai antara lain :
a.    Masalah infra struktur (Sarana)
Untuk dapat menerapkan e-learning infrasutruktur yang ada harus memadai, infrastruktur itu antara lain : PC, Jaringan Internet, perangkat multimedia, Dll. Tergantung dari model dan aplikasi yang digunakan. Semakin bagus sistem e-learning yang dirancang maka semakin banyak infrastruktur yang dibutuhkan, dan tentu saja untuk memenuhi infrastruktur ini memerlukan dana yang tidak sedikit. Untuk didaerah perkotaan infrastruktur ini bukan menjadi kendala utama karena sebagian besar lembaga pendidikan dikota sudah memiliki infrastruktur ini. Namun di daerah daerah tertentu pemenuhan infrastruktur ini akan sangat sulit dan bahakan belum bisa dipenuhi terutama masalah jaringan internet. Belum semua wilayah di Indonesia bisa menikmati layanan internet.


b.    Masalah SDM ( Sumber daya Manusia )
e-Learning saat ini sudah tidak asing lagi diterapkan di pergutuan tinggi, tetapi untuk di lembaga pendidikan dibawahnya (SLTA, SMP, SD) masih sangat minim sekali yang sudah menerapkan e-learning. Hal ini dikarenakan sumber daya yang dimiliki oleh perguruan tinggi jelas lebih unggul baik dari tenaga Pendidiknya, Teknisi, Maupun dari siswanya. Belum semua guru bisa menggunakan infrastruktur e-learning, bahkan untuk mengoperasikan komputer saja masih banyak guru yang masih kesulitan.
Perlu perhatian dan bimbingan khusus terkait dengan pengembangan dan mempersiapkan sumber daya manusia dalam rangka penerapan e-learning.

c.    Masalah sistem dan aplikasi
Belum banyak sistem dan aplikasi e-learning dibuat. walaupun ada, sistem dan aplikasi itu masih sangat sederhana. Aplikasi tersebut belum sepenuhnya dapat memvirtualisasikan atau mengkonversikan sistem pembelajaran konvensional menjadi virtual secara penuh mulai dari sistem penerimaan atauseleksi peserta didik hingga pelaksanaan ujian.

d.    Masalah konten
yaitu konten dan bahan ajar yang ada pada e-Learning system   ( Learning Management System  ). Konten dan bahan ajar ini bisa berbentuk multimedia- based   kontent   (konten berbentuk multimedia interaktif) atau text-based content  (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Konten e-Learning  biasa disimpan dalam LMS sehingga dapat diaksesoleh siswa kapanpun dan di manapun. (http://academia.edu/. Diakses tanggal 13 Januari 2014)
di indonesai konten E-learning berbentuk teks memang sudah banyak diterbitkan danbahkan kita bisa dengan mudah men download konten tersebut baik dalam bentuk buku maupun artikel. Namun konten berbasis multimedia masih sangat jarang kita jumpai.  Padahal konten berbasis multimedia ini akan lebih mempermudah belajar siswa dibanding berbasis teks.

CARA MENGATASI DAN MENGOPTIMALKAN PELAKSANAAN ELEARNING JIKA DITERAPKAN INDONESIA:
Ø  Untuk masalah biaya penggunaan internet, sebaiknya pemerintah dan perusahaan-perusahaan telekomunikasi membuat suatu kesepakatan untuk menyediakan layanan internet murah terutama untuk bidang pendidikan. Kalau bisa gratis lebih baik. Atau bisa juga dengan meyediakan hotspot bagi sekolah-sekolah atau perguruan tinggi-perguruan tinggi yang belum memilikinya. Karena salah satu kendala belum bisa terlaksananya E-Learning secara maksimal adalah masalah biaya penggunaan internet. Jika pemerintah dan perusahaan telekomunikasi berhasil membuat kesepakatan itu, E-Learning akan menjadi lebih mudah dilaksanakan di Indonesia. Yang tentunya sangat bermanfaat untuk kemajuan pendidikan di Indonesia yang imbasnya bisa sampai ke segala bidang seperti teknologi, sosial, budaya, dll.
Ø  Untuk masalah pengadaan media dan infrastruktur untuk pelaksanaan E-Learning seperti PC, laptop, LCD, dll, sebaiknya pemerintah menyediakan dana untuk sekolah-sekolah atau perguruan tinggi-perguruan tinggi yang membutuhkan dana untuk pengadaan media untuk E-Learning.
Ø  Untuk masalah SDM, sudah seharusnya pemerintah atau instansi-instansi pendidikan mengadakan sosialisasi tentang E-Learning. Untuk pengajar, bisa dilakukan diklat mengenai penggunaan E-Learning dalam pembelajaran, sehingga staf pengajar sudah siap untuk melaksanakan sistem baru ini. Untuk siswa, seharusnya mereka dikenalkan dengan E-Learning sejak dini, agar besok di jenjang yang lebih tinggi sudah terbiasa dengan sistem ini.
Ø  Anggaran 20% untuk pendidikan segera dilaksanakan. Kalau bisa lebih tinggi, itu lebih baik. Karena anggaran yang semakin besar untuk pendidikan, berbanding lurus dengan kualitas pendidikan. Semakin tersedia sarana dan prasarana pendidikan, semakin baik kualitas pendidikan.
Ø  Pemerintah bisa juga membuat kesepakatan dengan negara lain untuk dimintai bantuan. Terutama negara-negara yang sudah berhasil dalam pelaksanaan E-Learning. Karena kesuksesan negara-negara tersebut dapat kita contoh untuk menyukseskan pelaksanaan E-Learning di Indonesia.

2.  Mengoptimalkan aspek interaksi dalam e-learning.
Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional kearah pendidikan yang terbuka dengan memanfaatkan teknologi. Perkembangan teknologi dewasa ini sangat pesat sekali dan merambah ke semua lini kehidupan masyarakat kita, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Namun pemanfaatan teknologi dalam aplikasi dunia pendidikan masih menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan karena e-learning sendiri akan membawa dampak negatif juga.
Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi Antara dosen dan mahasiswa. Selama ini E-learning lebih mengarah ke pendidikan jarak jauh dan pendidikan mandiri.
Bagaimanapun tatap muka tetap diperlukan antara dosen dan mahasiswa maupun mahasiswa dengan mahasiswa, karena kurangnya interaksi ini akan memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar.
Agar E-learning bisa berjalan optimal maka perlu ada solusi yang bisa menggantikan fungsi tatap muka, dan teknologi yang ada sekarang ini sudah sangat memungkinkan untuk bisa melakukan tatap muka dalan pembelajaran jarak jauh dengan difasilitasi oleh internet.

Menurut Thomson, Ganxglass dan Simon (2000), menyatakan “Secara jaringan, elearning dapat didefinisikan sebagai upaya menghubungkan pembelajar (murid) dengan sumber belajarnya (database, pakar/guru, perpustakaan) yang secara fisik terpisah atau bahkan berjauhan. Interaktifitas dalam hubungan tersebut dapat dilakukan secara langsung (synchronous) maupun tidak langsung (asynchronous).

Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa interaktivitas tatap muka dilakukan secara synchronus dan asynchronus. Dalam hal ini, untuk mengoptimalkan aspek interaktivitas perlu mengelola pembelajaran menggunakan metode pembelajaran yang tepat dan memanfaatkan aplikasi/ fitur-fitur yang ada untuk interaktivitas. Misalnya, supaya interaksi antara siswa dan siswa, siswa dan guru bisa optimal, guru menggunakan metode pembelajaran diskusi melalui aplikasi interloc. Guru memberikan suatu topik dan bahan bacaan, setelah siswa membaca topik dan bahan bacaan tersebut, mereka akan mendiskusikan bersama-sama. Dalam diskusi tersebut peran guru sebagai fasilitor mengarahkan jalannya diskusi. Diakhir diskusi guru memberikan feedback dari apa yang telah didiskusikan sebagai penguatan bagi siswa sebelum melanjutkan ke diskusi yang lebih mendalam. Menggunakan kuis untuk berpikir kreatif juga bisa untuk meningkatkan interaktivitas antara siswa melalui intelegent agent. Kemudian, pembelajaran juga bisa melalui Tele Conference untuk membahas materi-materi pembelajaran. Jadi, merancang suatu pembelajaran yang menarik sangat penting untuk meningkatkan interaktivitas.
Sedangkan untuk memfasilitasi tatap muka antara siswa dengan guru dapat mrnggunakan media Video Call, dengan fasilitas ini guru dan murid bisa melakukan interakasi langsung seperti tatap muka. Sudah banyak aplikasi video call yang bisa dipakai dan di aplikasikan.

3. Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan E-learning? Bagaimana dengan ilmuan teknologi pendidikan menyikapi hal ini?
Banyak orang menganggap bahwa pendidikan merupakan suatu tolak ukur kemajuan suatu bangsa, semua orang membutuhkan pendidikan. Pada saat ini, pendidikan khususnya di Indonesia semakin berkembang. Pemenuhan kebutuhan untuk mengatasi masalah belajar sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dalam mengatasi masalah belajar yang dihadapi pada saat ini, diperlukan suatu strategi, bagaimana mengembangkan suatu pembelajaran yang konvensional yang belum mampu memenuhi kebutuhan peserta didik menjadi pembelajaran yang benar-benar mampu untuk mengatasi masalah belajar dan meningkatkan mutu pendidikan. Melihat kemajuan teknologi yang semakin pesat, pendidikan hendaknya memanfaatkan teknologi secara efektif, karena peran teknologi diperlukan untuk mengatasi masalah pembelajaran. melalui e-learning diharapkan peserta didik mampu belajar secara mandiri, bertanggungjawab dan lebih kreatif tentunya di dukung oleh para stakeholder yang lain untuk memfasilitasi peserta didik dalam belajar.
Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga tersedia layanan informasi yang lebih baik untuk peserta didik. Layanan pendidikan dapat dilaksanakan melalui sarana internet, misalnya E-Learning. E-Learning mempunyai banyak keunggulan dan kemudahan dalam hal pengembangan pendidikan, Sekalipun dipersepsikan cukup banyak manfaat dari E-Learning, prakondisi institusional dan perubahan tradisi pembelajaran perlu menjadi perhatian agar dapat diselenggarakan E-Learning yang efektif dan efisien. E-Learning mempunyai alasan mengapa perlunya diterapkan dalam dunia pendidikan antara lain :
Ø  Standar kualitas dan kompetensi.
Pernahkah terbayang oleh Anda ketika harus memberikan materi pelatihan kepada beberapa kelas peserta yang berbeda? Kemungkinan kualitas materi yang Anda sampaikan tidak 100% sama antara kelas yang satu dengan kelas yang lain. Studi kasus yang teringat pada kelas A belum tentu teringat dan disampaikan di kelas B. Begitu pula dengan pengalaman-pengalaman penting terkait aplikasi materi, ada pengalaman yang teringat dan disampaikan tapi tidak diberikan di kelas C karena terlupa. E-Learning memberikan solusi ketika kualitas materi yang Anda berikan pada seluruh kelas memiliki standar yang sama. E-Learning merangkum dan mempersembahkan kualitas dan kompetensi yang sama bagi seluruh pebelajar.
Ø  Cakupan Geografis yang lebih Luas
Luasnya wilayah geografis suatu negara terkadang menjadi kendala para peserta belajar untuk mendapatkan pembelajaran yang berkualitas. E-Learning memberikan kesempatan bagi pebelajar yang berada jauh dari pusat pendidikan atau pelatihan.
Ø  Monitoring Efektivitas Program
Ketika pebelajar diberikan kesempatan untuk bebas belajar, para penyelenggara diklat biasanya mengkhawatirkan bagaimana monitoring dilakukan. Proses monitoring bukan tidak mungkin dilakukan pada pembelajaran E-Learning. Justru boleh dibilang E-Learning membuka kesempatan monitoring yang lebih efektif, efisien dan terbuka. Banyak management system E-Learning yang mengakomodasi monitoring dengan cukup baik. Tidak hanya sekedar menampilkan score keberhasilan pembelajaran, management system juga dapat memberikan kesempatan penyelengara untuk melihat aktivitas pembelajaran yang terjadi. Dalam rincian hari, jam hingga durasi pembelajaran yang dilakukan.
Ø  Biaya Pelatihan yang lebih Ekonomis
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan menghabiskan dana yang tidak sedikit. Terlebih materi yang disampaikan adalah materi berulang untuk peserta yang cukup banyak. Dengan penggunaan E-Learning, biaya kudapan, akomodasi (jika penyelenggaraan mengundang peserta dari daerah yang berbeda), dan biaya-biaya lainnya dapat diminimalisir.
Ø  Waktu Pelatihan yang Tidak Terbatas
E-Learning memberikan kesempatan pembelajar agar dapat belajar dimana saja dan kapan saja. Kesempatan belajar yang tidak terbatas ini biasanya diiringi dengan pengkondisian agar terbentuknya jiwa pebelajar yang disiplin dan kritis. Disiplin dalam artian dia mempelajari seluruh materi yang diberikan dan kritis dalam menggali atau mendalami pemahamannya akan materi tersebut.
Ø  Jumlah Peserta yang Lebih Banyak
Jumlah peserta yang banyak terkadang menjadi kendala dalam penyelenggaraan diklat. Kurangnya tempat atau keterbatasan pemberi materi, membuat tidak dimungkinkannya jumlah peserta yang banyak diakomodir. Dengan E-Learning jumlah peserta yang banyak dapat diakomodir dengan mudah. Jumlah peserta diklat yang cukup banyak dapat mempelajari materi diklat secara bersamaan.
Dari penjelasan inilah yang membuat pemikiran bahwa pendidikan harus mempertimbangan penerapan E-Learning.

Ilmuan teknologi menyikapi hal ini :
Definisi Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis yang memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses teknologi dan sumber daya yang tepat.
Semua usaha dalam teknologi pendidikan ditujukan untuk memfasilitasi dan memecahkan masalah belajar peserta didik. Usaha-usaha tersebut terdiri dari pengelolaan, pengembangan sistem pembelajaran dengan memanfaatkan sumber belajar. Berdasarkan pada pengertian pengembangan pembelajaran, maka diperlukan minimal 4 kriteria yang harus dipenuhi dalam model pembelajaran yaitu : (1) mempunyai tujuan, (2) keserasian dengan tujuan, (3) sistemik, (4) berpedoman pada evaluasi. Untuk merancang pembelajaran diperlukan sebuah pendekatan, agar memudahkan instructional designer merancang dan mengembangkan sebuah proses pembelajaran menjadi efektif dan efisien.

Menurut Rosenberg (2001) E-Learning merupakan pembelajaran menggunakan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas dengan kriteria sebagai berikut:
Ø  E-Learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendisribusi dan membagi materi ajar atau informasi.
Ø  Pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar.
Ø  Memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.
Jadi, relevan jika pendidikan harus mempertimbangan penerapan E-Learning untuk memanfaatkan teknologi sebagai pemecahan masalah belajar dalam pendidikan dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekuranganya.

4.  Pemanfaatan elearning ditengarai akan menyebabkan perilaku penyendiri tidak mau bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya. Bagaimana upaya teknolog pembelajaran dalam mengatasi kemungkinan tersebut?
Pengertian Perilaku
Perilaku atau aktifitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh organisme yang yang bersangkutan baik stimulus eksternal maupun stimulus internal. Namun sebagian besar dari perilaku organisme sebagai respon terhadap stimulus ekternal. Pandangan kaum Behavioristik memandang bahwa perilaku sebagai respon terhadap stimulus, akan sangat ditentukan oleh keadaan stimulusnya, dan individu atau organisme seakan-akan tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan perilakunya, hubungan stimulus dan respon seakan-akan bersifat mekanistis. Sedangkan Aliran Kognitif memandang perilaku individu merupakan respon dari stimulus, namun dalam diri individu itu ada kemapuan untuk menentukan perilaku yang diambilnya. Berarti individu tersebut dalam keadaan aktif dalam menentukan perilaku yang diambilnya. (http://ipahipeh.blog.fisip.uns.ac.id. Diaksen tanggal 17 Januari 2014)
Sedangkan Pola perilaku merupakan hubungan definitif antara suatu stimulus dengan tanggapan, yang menyebabkan organisme berperilaku menurut cara tertentu dan seragam bilamana suatu stimulus tertentu terjadi. Pola perilaku mungkin bersifat naluriah (diwariskan) atau habitual (diperoleh atau dibentuk).
Jenis Perilaku
Skinner (1976) membedakan perilaku menjadi dua, yaitu
1.    Perilaku alami (innate behavior)
Perilaku alami yaitu perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan, yaitu berupa refleks-refleks dan insting-insting. Perilaku yang reflektif merupakan perilaku yang terjadi sebagai reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme yang bersangkutan. Misal : menarik jari bila jari terkena api, reaksi mata berkedip bila terkena sinar yang kuat, dan lain sebagainya. Reaksi atau perilaku seperti ini terjadi secara sendirinya, secara otomatis, tidak diperintah oleh pusat susunan syaraf atau otak.  Perilaku yang reflektif merupakan perilaku yang tidak dapat dikendalikan karena perilaku tersebut bersifat alami.
2.    Perilaku operan (operant behavior)
Perilaku operan yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar. perilaku non-reflaksif  yaitu perilaku yang dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak. Sebagian terbesar perilaku manusia merupakn perilaku yang dibentuk, perilaku yang diperoleh, perilaku yang dipelajari melaui proses belajar.
Hubungan antara pendidikan dan perilaku individu
Ada hubungan antara pendidikan dan perilaku individu, sesuai dengan fungsi sekolah sebagai pusat pendidikan, yaitu pembentukan pribadi anak atau individu.  Dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan tersebut, mampu mempengaruhi perilaku individu dalam bertingkahlaku, karena  menurut John Locke, Tujuan pendidikan adalah pembentukan watak, perkembangan manusia sebagai kebulatan moral, jasmani dan mental. Perilaku individu dapat diperoleh pula melalui proses belajar yang kontinu.
e-learning merupakan salah satu pemecahan masalah belajar yang dihadapi oleh peserta didik. E-learning menawarkan konsep untuk belajar mandiri, dimana peserta didik bisa belajar menurut gaya belajar dan kecepatan masing-masing. Tetapi hal ini terkadang menyebabkan suatu perilaku menyendiri dan kurangnya sosialisasi dengan lingkungan. Upaya teknolog pendidikan pendidikan dalam hal ini yaitu berdasarkan buku teknologi pendidikan (1977) menyatakan bahwa “Teknologi Pendidikan merupakan proses yang kompleks lagi terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk mennganalisis masalah dan sekaligus mencari upaya pemecahannya, mengimplementasikan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan terhadap masalah masalah yang berkenaan dengan aspek belajar manusia.” Perlu melakukan suatu  upaya yaitu menganalasis apa yang menjadi faktor yang menyebabkan perilaku menyendiri, kemudian teknolog pendidikan harus mengelola pembelajaran supaya peserta didik dalam e-learning bisa bersosialisasi dengan orang lain dan lingkungannya. Misalkan melalui model pembelajaran project based learning yang mengedepankan strategi kolaborasi, sehingga mengharuskan peserta didik untuk bekerjasama dan menyelesaikan tugas tersebut secara berkelompok, kemudian ketika tugas tersebut selesai dikerjakan, rancanglah diskusi-diskusi yang menarik melalui fitur yang ada. Dengan demikian maka antar peserta didik akan saling berkomunikasi dan terjalin interaksi sesuai yang di inginkan.

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa E-learning adalah sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Perbedaan Pembelajaran antara Metode Tradisional dan Metode E-Learning yaitu pada Metode Tradisional, seorang guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuannya kepada siswa atau mahasiswa.
Sedangkan pembelajaran pada Metode E-Learning seorang siswa atau mahasiswa dituntut untuk dapat mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran dengan Metode E-Learning akan ‘memaksa’ pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya. Pelajar membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha, dan inisiatif sendiri.

SARAN
Setelah melakukan pembahasan penulis ingin memberikan masukan yang berupa saran bahwa penulis mengharapkan apa yang menjadi makalah dengan tema ‘E-LEARNING‘  tidak hanya menjadi suatu teori saja, namun dapat di praktekkan didalam kehidupan bermasyarakat sebagai suatu pemahaman bahwa dalam persaingan yang ketat di era globalisasi seperti saat ini sangat dibutuhkan suatu konsep keterampilan guna mendukung kehidupan bermasyarakat.
Demikianlah Makalah yang sederhana ini saya buat untuk memenuhi syarat pembelajaran di mata kuliah TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI  ini mudah-mudahan dapat diterima dengan baik bagi pembaca.
Daftar Pustaka :
Ø  http://academia.edu/. Diakses tanggal 13 Januari 2014
Ø  http://ipahipeh.blog.fisip.uns.ac.id. Diaksen tanggal 17 Januari 2014)
Ø  E-Learning dalam Pembelajaran - Ade Kusmana
Ø  EdhySutanta  Makalah Juni 2009 DASI Konsep dan Implementasi E-learning
Ø  Tafiardi, Meningkatkan Mutu Pendidikan melalui E-learning
Ø  widhiartha_elearning

Selasa, 31 Desember 2013

Selamat tahun baru 2014

TAHUN BARU, SEMANGAT TERBARUKAN

suasana dijalan raya mulai padat, suara terompet mulai terdengar disana sini.malam ini terasa berbeda karena malam ini adalah malam perayaan tahun baru. perayaan tahun baru di indonesia dirayakan tiap tanggal 1 januari dengan berbagai cara. ada yang merayakan tahun baru di tempat wisata, di kafe, di pusat kota dan tempat keramaian lainya.cara tiap orang merayakanya pun berbeda -beda, dengan hanya sekedar makan malam dengan keluarga kemudian meniup terompet, ada pula yang rela begadang semalaman untuk menantikan pergantian tahun.tahukah anda bahwa tahun baru menurut penggalan masehi pernah dirayakan tidak hanya dibulan januari, berikut adalah sejarahnya,Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalenderJulius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SMSM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. baru ini, sehingga tahun 46

selain itu, ada banyak juga perayaan tahun baru didunia yang tidak menganut penaggalan masehi diantaranya adalah,

Dalam kalender Baha'i, tahun baru jatuh pada tanggal 21 Maret yang disebut Naw Ruz.Rosh hasanah adalah perayaan tahun baru bagi umat Yahudi. Hari tersebut jatuh sebelum tanggal 5 September pada kalender Gregorian.Tahun baru Hijriyah dalam kalender Hijriyah dirayakan setiap tanggal 1 Muharam.Tahun baru Tiongkok atau Imlek jatuh pada malam bulan baru pada musim dinginJanuari hingga awal Februari). (antara akhirTahun baru Thailand dirayakan mulai tanggal 13 April hingga 15 April dengan upacara penyiraman air.Tahun baru Vietnam disebut Tết Nguyên Đán, dirayakan pada hari yang sama dengan Imlekmalam ini rakyat indonesia dalam hitungan beberapa jam lagi akan merayakan tahun baru, semua orang seolah sudah sibuk untuk menyambut perayaan ini, banyak orang yang beranggapan bahwa ini adalah semacam rutinitas yang seolah tidak boleh dilewatkan dengan cara berpesta pora.perayaan tahun umumnya memang identik dengan pesta pora dan bersenang senang tanpa arah dan tujuan yang jelas, suara petasan dan terompet seolah menjadi hal yang wajib dan harus ada untuk merayakan tahun baru.sungguh amat disayangkan apabila perayaan tahun baru hanya berakhir diriuhnya suara petasan dan terompet, karena ini adalah moment yang tepat bagi kita untuk bisa merefleksikan dan mengevaluasi diri kekurangan dan pencapaian apa saja yang kita dapat pada tahun sebelumnya. hal ini penting karena dengan mengevaluasi diri kita bisa tahu kelemahan dan kekurangan kita ditahun sebelumnya sehingga bisa kita jadikan acuan untuk tahun yang akan datang agar kesalahan tidak terulang kembali dan kekurangan kita bisa kita benahi, so tentu saja tahun yang akan datang kita bisa menjadi orang yang lebih baik.tanpa semangat untuk memperbaiki diri, sebenarnya perayaan tahun baru hanya akan menjerumuskan kita pada budaya konsumtif,westenisasi dan hedonisme. untuk itu marilah dalam rangka menyambut tahun baru 2014 ini kita bersam-sama merevleksikan dan mengevaluasi diri kita agar ditahun yang akan datang kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dan menjadi manusia baru juga ( neo saphien )tahun baru,,,,,,,,semangat baru,,,,,,,,,,,manusia baru,,,,,,,,,,,,,SELAMAT TAHUN BARU 2014  post by : Susmudioko,ST

Selasa, 24 September 2013

PROGRAM SMK BERPRESTASI


“Training Implementasi SMM Iso 9001:2008 Untuk Sekolah”

 
Tanggal 22-23 Oktober 2013




SMK MIGAS CEPU adalah salah satu contoh sekolah yang sudah menerapkan SMM ISO 9001:2008, SMK MIGAS sudah menerapkan SMM ISO 9001:2008 sejak tahun 2008. Banyak keuntungan/manfaat yang sudah diperoleh oleh SMK MIGAS ketika menerapkan SMM ISO 9001:2008, diantaranya SMK MIGAS berhasil menjadi RSBI dan sekarang SMK MIGAS menjadi salah satu SMK BERPRESTASI di Indonesia.
Untuk itu melalui program kegiatan SMK BERBAGI PRESTASI ini kami Tim ISO SMK MIGAS akan melaksanakan Training Implementasi SMM ISO 9001:2008 untuk sekolah, terutama sekolah diwilayah cepu dan sekitarnya, dengan harapan kami dapat membantu dan berbagi ilmu kepada sekolah-sekolah disekitar cepu yang ingin menerapkan SMM ISO 9001:2008. Apabila SMM ISO9001:2008 ini diterapkan pada sekolah secara benar dan konsisten, maka dapat dipastikan terjadi perubahan pada sekolah yaitu adanya peningkatan kinerja dan kepuasan pelanggan (staff, siswa, guru, kepala sekolah, penjaga sekolah, wali murid, serta masyarakat sekitar).

JADWAL TRAINING

NO
HARI TANGGAL
JAM
ACARA
KETERANGAN
1
Selasa,
22 Okt 2013
08.00 – 08.30
Check In Peserta
Panitia
08.30 – 09.00
Opening Ceremoni

Pembukaan
ALL
Sambutan Ketua Panitia
Susmudioko, ST
Sambutan Kepala sekolah
Ir. Bambang Harjoko, MT
Penutupan

09.00 – 10.15
Materi I
Susmudioko, ST
Quality Awareness
10.15 – 11.30
Materi II
Agus Siswanto, M.Pd
Persyaratan Sistem Manajemen Mutu ISO9001:2008
11.30 – 12.30
Ishoma
All
12.30 – 14.00
Materi III
Susmudioko, ST

Penerapan Sistem Manajemen Mutu
14.00 – 15.30
Materi IV
Agus Siswanto, M.Pd

Dokumentasi Sistem Manajemen Mutu

2
Rabu,
23 Okt 2013
09.00 – 10.15
Materi V
Susmudioko, ST
Pengendalian Dokumen
10.15 – 11.30
Materi VI
Indyarti Setyowati, S.Pd
Audit Internal
11.30 – 12.30
Ishoma
All
12.30 – 13.30
Materi VII
Agus Siswanto, M.Pd
Rapat Tinjauan Manajemen
13.30 – 14.30
Materi VIII
Susmudioko, ST
Tindakan Korektif, Perbaikan dan Pencegahan
14.30 – 15.00
Istirahat
All
15.00 – 16.00
Penutupan
All

3
Menyesuaikan
( Akan diatur tersendiri )
Pendampingan bagi Sekolah yang akan menerapkan SMM ISO 9001:2008
TIM ISO SMK MIGAS CEPU


      SMK MIGAS CEPU
Kampus  1   :  Jl. Diponegoro No. 53   Telp/Fax. (0296) 421120 
Kampus  2   : Jl. Ronggolawe No. 2   Komplek Mentul Telp. (0296) 423727
Web site : http//:smkmigas.com         e-mail : smk_migas@yahoo.com
CEPU  -  58312
 

Ket :
Training ini Khusus bagi sekolah diwilayah cepu dan sekitarnya
Training tanpa dipungut biaya
Bagi yang berminat bisa menghubungi panitia atau langsung datang ke sekolah kami